Buku ini sangat berguna bagi mereka yang mempelajari sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan, terlebih bagi mahasiswa yang ingin memahami ilmu budaya dasar dan ilmu sosial dasar, baik di fakultas ilmu-ilmu sosial maupun eksakta. Latar naskah buku ini diambil dari era 80an dengan memotret perkembangan kebudayaan -khususnya Jawa- dan kemasyarakatan yang terjadi kala itu.
"Tidak ada lagi orang Jawa yang lain. Juga Camat, juga kepala polisi. Ah, tahunya apa camat-camat sekarang. Adu jago saja patohan, membuat candrasengkala mesti ke Pak Mantri Pasar. Inilah kelirunya. Zaman dulu pegawai itu mesti tahu sastra. Bukan sekadar bisa baca tulis.."
Dongeng-dongeng enteng-entengan ini dapat dipakai sebagai bahan cekakak-cekikik, melepas lelah sambil tiduran, teman di atas kendaraan, hadiah ulang tahun, disandiwarakan untuk anak-anak, dipilih yang lucu-lucu lalu dibaca waktu hajatan, atau sekadar membuang beban
Generasi baru muslim telah lahir dari rahim sejarah, tanpa kehadiran sang ayah, tidak ditunggui saudara-saudaranya. kelahirannya bahkan tidak terdengar oleh muslim yang lain. Mereka adalah generasi baru yang kini bermekaran dalam satuan-satuan lain, seperti negara, bangsa, daerah, partai, ormas, kelas usaha dan sebagainya. Pengetahuan agama mereka bukan dari lembaga konvensional, melainkan dariā¦
Berangkat dari keprihatinannya atas gagasan "Islamisasi pengetahuan" yang cenderung bersifat reaktif, Kuntowijoyo dalam buku ini menawarkan suatu penyikapan baru perihal hubungan antara agama (Islam) dan ilmu. Menurutnya, dalam hal ilmu, gerakan intelektual Islam harus melangkah lebih jauh, yakni gerak dari teks menuju konteks.