Bali merupakan katalis sekaligus latar belakang bagi visi sang pendekar romantis, Bre Redana. Dengan goresan pena yang merdu, kenangan si pemuda abadi ini tersebar secara puitis dan filosofis dalam tulisannya. Seperti halnya, "Berteduh di Antara Batubulan-Mas", "Cinta Bersemi di Banjar Kalanganyar", "Berselewengan di Bawah Sayongan Tegalsuci", dan lain-lain. Bali jadi lebih dikenal, lebih digam…
"Tidak ada lagi orang Jawa yang lain. Juga Camat, juga kepala polisi. Ah, tahunya apa camat-camat sekarang. Adu jago saja patohan, membuat candrasengkala mesti ke Pak Mantri Pasar. Inilah kelirunya. Zaman dulu pegawai itu mesti tahu sastra. Bukan sekadar bisa baca tulis.."