Buku puisi ini adalah perayaan Gol A Gong setelah menikmati kopi di kota-kota di Pulau Sumatra. Mulai dari Nol kilometer di Pulau Weh, lalu di kedai-kedai kopi di Banda Aceh, Bireum, Takengon, Blankejeren, dan Kutacane. Ada aroma lain dari setiap cangkir kopi yang ia hirup:: Aroma ketidakadilan, Suatu rasa lain dari kop nusantara yang kita cintai ini
Krosak!!! Dia melihat lagi bayangan itu, merangkak bagai laba-laba. Lazuardi membuka lebar-lebar kedua matanya. Dia mundur dengan cara menggeser tubuhnya. Dia bangun dan tubuhnya membentur dinding. Tak ada jalan lagi buat menghindar
Namaku Lazuardi, Aku pergi jauh dari rumah karena aku sedang memaknai perjalanan, yang bagiku ibarat labirin. Aku tak tahu kapan harus berhenti
Ternyata malam ini tidak mati. Begitu banyak derap langkah. Suara-suara membubung ke angkasa. Hiruk pikuk. Bahkan, dari selimut kegelapan, menyembul nyala-nyala obor bagai ribuan kunang-kunang