Salah satu dari karya klasik Cak Nun yang ditulis pada 1990-an namun gaungnya masih terasa hingga sekarang. Memaparkan dengan jernih persoalan antara masyarakat dan negara. Kritik mengenai demokrasi di masa orde baru. Catatan penting mengenai perilaku penguasa pada masa orde baru, yang bahkan jejaknya masih bisa kita lihat dan rasakan hingga saat ini.
Arus Bawah mengangkat persoalan kebangsaan yang masih erat kaitannya dengan Bangsa Indonesia. Dikisahkan punakawan bernama Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Masing-masing mengemban tugas penting untuk menemani dan menggembalakan kaum penguasa di Dusun Karang Kedempel menuju sesuatu yang benar. Namun, di tengah misi tersebut, Kiai Semar yang digambarkan sebagai penjaga keseimbangan menghilang da…
Ini hanya suatu sembahyang, tak lebih dan tak kurang. Sepenuh-penuhnya kutumpahkan kepada Allah, langsung kepada-Nya maupun melewati engkau dan semua saudara-saudara kita. Aku menyaring seluruh yang pernah kuungkapkan, membawanya ke dalam sautu sikap sembahyang, yakni buku "99 Untuk Tuhanku" ini. Selebihnya, biarlah menjadi masa silam.
Setelah beberapa kali menyelenggarakan perkumpulan pengajian yang membahas mengenai tafsir Al-Qur'an, Markesot mulai dibicarakan orang-orang. Mereka bertanya-tanya mengenai latar belakang ilmu agama yang dimiliki Markesot. Apalagi selama ini, dia tidak dikenal sebagai ulama, ustaz, maupun santri lulusan madrasah sekalipun
Buku ini merupakan kelanjutan dari Markesot Bertutur. Pertama kali diterbitkan Ikapi, Jakarta, tahun 1994. Cak Nun masih konsisten mengambil karakter Markesot sebagai individu yang menjelaskan realitas sosial dalam konteks apa pun. Pada bagian kedua Markesot, pembaca akan disuguhkan hakikat kehidupan tapi, sebagaimana laiknya gaya kepenulisan Cak Nun, tak kering humor.
Markesot adalah sosok lugu nan cerdas, mbeling, terkadang misterius. Dalam kesehariannya dengan sahabat-sahabatnya, Markembloh, Markasan, Markemon, dan lain-lain—yang tergabung dalam Konsorsium Para Mbambung (KPMb)—Markesot memperbincangkan seabrek problem masyarakat kita. Dari konflik politik internasional sampai soal celana. Dari tasawuf hingga filosofi urap. Dalam gaya bertutur khas Jawa…
Menceritakan tentang bagaimana pemerintah kolonial Belanda berupaya mengendalikan dan memantau pergerakan kaum nasionalis melalui sistem pengarsipan yang terorganisir.
Roman ketiga ini, Jejak Langkah, adalah fase pengorganisasian perlawanan
Roman tetralogi Buru mengambil latarbelakang dan cikalbakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia mode…