Dalam kumpulan tulisan yang pernah terbit di berbagai media ini, Cak Nun mencoba menempatkan agama, dalam hal ini Islam, sebagai jalan pemerdekaan. Lewat ini pula manusia dapat menari-nari dengan imajinya sendiri.
Dalam buku ini, pembaca akan mendapati ungkapan cinta seorang manusia kepada sesamanya dan Penciptanya. Meskipun tetap dengan nada yang kadang menusuk tajam—karena sarat kritik atas kehidupan sosial kita yang pincang—kelima puluh prosa-puisi yang tampil di sini mencuatkan kepekaan dan kedalaman pemikiran seorang seniman dalam menangkap ayat-ayat Tuhan.
Salah satu bakat paling besar dalam diri manusia memang menjadi binatang: makhluk tingkat ketiga sesudah benda dan tetumbuhan. Binatang plus akal adalah kita. Binatang plus akal plus tataran-tataran lain dari spiritualisme adalah kesempurnaan yang seyogyanya diperjuangkan oleh manusia. Akan tetapi, binatang nampaknya lebih beruntung dibanding manusia. Dunia dan nilai mereka sudah niscaya dari a…
Di negeri kami ini, umatmu berjumlah terbanyak dari penduduknya. Di negeri ini, kami punya Muhammadiyah, punya NU, Persis, punya ulama-ulama dan MUI, ICMI, punya bank, punya HMI, PMII, IMM, Anshor, Pemuda Muhammadiyah, IPM, PII, pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, kelompok-kelompok studi Islam intensif, yayasan-yayasan, mubalig-mubalig, budayawan, seniman, cendekiawan, dan apa saja. Yang tak …
Dalam kumpulan tulisan yang pernah terbit di berbagai media ini, Cak Nun mencoba menempatkan agama, dalam hal ini Islam, sebagai jalan pemerdekaan. Lewat ini pula manusia dapat menari-nari dengan imajinya sendiri.
Melalui buku ini, Emha Ainun Nadjib, menguliti dalam-dalam perkara kemusliman "birokrasi". Ketaatan yang penuh rasa "takut pada atasan", bukan kecintaan dan pengabdian pada Tuhan. Semua kemudian berputar pada surga dan neraka, halal dan haram, pahala dan dosa. Detil-detil ritual yang malah memicu perbedaan pendapat antarumat, serta dengan gampang mengkafirkan orang lain. Dalam kegelisahannya, E…
Allah begitu sabar terhadap manusia, cinta dan romantisme-Nya tidak berdasarkan kekuasaan belaka. Allah pun mempunyai rasa "memiliki" terhadap manusia. Dengan setia Allah tetap menerbitkan matahari tanpa peduli apakah manusia menyukuri atau tidak
Beruk, Gendhon, dan Penceng adalah nama dari tiga anak cucu Simbah -Cak Nun, yang hadir dalam buku ini. Sebagaimana orang yang dituakan, Simbah selalu dimintai saran, nasihat, atau pendapat sebelum anak cucunya memutuskan suatu hal. Tulisan Cak Nun dalam buku ini bergaya novel, melibatkan fenomena yang terjadi di masa kini dan lampau, mulai dari agama, politik, budaya, sejarah, hingga kehidupan…
Setiap orang pasti memilih pemimpin yang bisa dipercaya. Namun, percaya membabi buta kepada pemimpin tersebut justru bisa menjadi persoalan. Berprasangka baik memang perbuatan yang dianjurkan. Namun, selalu berprasangka baik tanpa sedikit pun meletakkan sikap kritis malah membahayakan. Melalui Pemimpin yang "Tuhan", Cak Nun mengajak pembacanya untuk mawas diri. Tidak hanya kepada pemimpin yang …
Catatan tentang perubahan besar-besaran di Indonesia yang terjadi pada 1970-1980an, meliputi situasi politik, sosial budaya, praktik keagamaan, hingga penetrasi kesenian dan kebudayaan. Sebuah catatan sejarah penting tentang ketidaksiapan masyarakat dalam menerima modernisasi. Meski ditulis pada masa orde baru, berbagai praktik ketimpangan sosial pada masa itu kembali kita jumpai lagi pada situ…