Buku ini adlaah kumpulan puisi yang terdiri dari dua bagian. Pada bagian pertama, Djamil Soeherman dan M. Diponegoro muncul beriringan, dengan karya puitisasi terjemahan ayat-ayat Al-Qur'an. Namun, tentunya dengan itikad yang jauh dari keinginan untuk menandingin keindahan sajak-sajak Al-Qur'an. Bagian kedua berisikansajak-sajak Djamil dalam corak yang beragam, dikumpulkan dari sajak-sajak Djam…
Buku ini adalah kumpulan sajak dari kumpulan sajak yang pernah Soni Farid Maulana buat sepanjang tahun 1982 hingga tahun 1993. Tema dari kumpulan sajak ini beragam, sehingga tak ada tema spesifik. Sajak yang berada di dalam buku ini berjumlah 37 buah. Diberi kata pengantar oleh Armahedi Mahzar dan diberi penutup oleh Afrizal Malna.
Antologi yang bersahaja ini berasal dari himpunan sajak-sajak untuk beberapa acara pembacaan sajak khusus yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, bekerjasama dengan badan-badan yang berhubungan dengan solidaritas perjuangan rakyat Palestina dan Afganistan. Sajak-sajak ini berasal dari Palestina, Afganistan dan dunia Islam yang lainnya. Para penyair nasional juga ikut mengisi buku ini.
Beruntunglah, bahwa dua dunia yang menjadi hirauan buku ini -hukum dan susastra- masing-masing memiliki dewi pengayom sendiri-sendiri. Dewi Keadilan dikenal sebagai dewi yang mengayomi dunia hukum dan Dewi Puisi yang dikenal sebagai dewi yang melindungi dunia susastra. Dalam buku ini, kedua dewi itu saling bercengkerama satu dengan yang lain dan dijelaskan dengan sangat apik.
Antologi ini memperlihatkan perjalanan Sastra Nobel selama 10 dasawarsa dari 1901-2000. Di sini pula para pembaca dapat menemukan tulisan dari para penulis belahan dunia yang mendapatkan penghargaan Nobel mulai dari Bjornstjerne Bjornson, George Bernard Shaw, Ernest Hemingway, Naguib Mahfouz hingga Nadine Gordimer.
Beruk, Gendhon, dan Penceng adalah nama dari tiga anak cucu Simbah -Cak Nun, yang hadir dalam buku ini. Sebagaimana orang yang dituakan, Simbah selalu dimintai saran, nasihat, atau pendapat sebelum anak cucunya memutuskan suatu hal. Tulisan Cak Nun dalam buku ini bergaya novel, melibatkan fenomena yang terjadi di masa kini dan lampau, mulai dari agama, politik, budaya, sejarah, hingga kehidupan…
Dalam buku ini, pembaca akan mendapati ungkapan cinta seorang manusia kepada sesamanya dan Penciptanya. Meskipun tetap dengan nada yang kadang menusuk tajam—karena sarat kritik atas kehidupan sosial kita yang pincang—kelima puluh prosa-puisi yang tampil di sini mencuatkan kepekaan dan kedalaman pemikiran seorang seniman dalam menangkap ayat-ayat Tuhan.
Dalam kumpulan tulisan yang pernah terbit di berbagai media ini, Cak Nun mencoba menempatkan agama, dalam hal ini Islam, sebagai jalan pemerdekaan. Lewat ini pula manusia dapat menari-nari dengan imajinya sendiri.
Dalam kumpulan tulisan yang pernah terbit di berbagai media ini, Cak Nun mencoba menempatkan agama, dalam hal ini Islam, sebagai jalan pemerdekaan. Lewat ini pula manusia dapat menari-nari dengan imajinya sendiri.
Arus Bawah mengangkat persoalan kebangsaan yang masih erat kaitannya dengan Bangsa Indonesia. Dikisahkan punakawan bernama Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Masing-masing mengemban tugas penting untuk menemani dan menggembalakan kaum penguasa di Dusun Karang Kedempel menuju sesuatu yang benar. Namun, di tengah misi tersebut, Kiai Semar yang digambarkan sebagai penjaga keseimbangan menghilang da…