Wahai ayahanda, pulanglah. Anak-anakmu paham kalau engkau sibuk berjuang di luar sana untuk masa depan mereka. Maka, jangan cemas, karena engkau pulang bukan untuk bekerja, bukan untuk kembali sibuk membanting tulang. Engkau diminta pulang hanya untuk bertanggung jawab, Karena engkau selamanya adalah pemimpin. Kepulanganmu dinanti untuk menjadi kepala sekolah, bukan guru... Untuk menjadi arsit…
Telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta bahwa di semsta ini segalanya berpasangan, dan harus berpasangan. Pasangan fujur adalah taqwa, pasangan nafsu adalah akal, dan pasangan baligh adalah aqil. Maka ketika baligh dan aqil berpisah, jiwa ketika itu limbung, pincang, dan tak seimbang. Timbangan yang telah Allah tegakkan dalam jiwa tiba-tiba berdiri miring.