Buku ini berisi penuturan berimbang yang menguraikan sejarah internak PKI yang penuh warna dan peristiwa penting, juga mengenai hubungan PKI yang rapuh dengan Partai Komunis Belanda, pun dengan Komintern. Klimaks buku ini muncul dalam kisah pemberontakan itu mengakhiri fase pertama setengah abad sejarah PKI.
Buku ini adalah karya klasik dari Selo Soemardjan yang mendapat gelar sebagai "Ilmuwan Sosiologi Utama" di Indonesia. Ia mengupas perubahan sosial dan politik yang revolusioner di Yogyakarta akibat pergantian kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda, kemudian Militeristik Jepang dan akhirnya Republik Indonesia. Sebagai karya yang ditulis oleh orang yang lahir, besar dan tinggal di Yogyakarta se…
Lewat buku ini Anda akan mengetahui fakta-fakta menarik bagaimana pemerintah Hindia Belanda menjalankan politik film agar tidak terlihat buruk di mata Pribumi. Selain itu, Anda juga akan mengenal perkembangan industri pertunjukan dan film di Indonesia serta cerita lembaga sensor film pertama.
Kisah pahlawan perempuan aceh ini, serta kewibwaannya dan kepandaiannya juga keberaniannya dalam berjuang melawan belanda menunjukan pada kita bahwa perempuan juga dapat melaksanakan peranan peranan yang cuma "ditakdirkan" untuk lelaki. berkat biografi karya nyonya lulofs inilah kita dapat mengetahui dalam sejarah indonesia selain kartini yang lembut,ada cut nyak din yang mengobar perang dan…
Pilihan yang dianjurkan Bung Karno adalah: "Rasionalisme diminta kembali duduk di atas singgasana Islam" Bung Karno lebih berbicara preskriptif, tentang Islam yang seharusnya .Dengan semangat yang bergelora, ia cenderung untuk mengemukakan bahwa Islam yang seharusnya itu adalah hakikat Islam itu sendiri
Buku ini menjadi istimewa bukan saja karena paling luas menguraikan sejarah film periode 1900–1950, tetapi juga ditulis oleh Misbach Yusa Biran yang sohor sebagai “ensiklopedia berjalan” film Indonesia. Ia tidak hanya hadir sebagai pengamat cendekiawan dan pencatat sejarah perfilman Indonesia yang ketil, tetapi juga “saksi hidup” dan orang yang tahu “apa yang terjadi” dengan dunia…