Ketika pujangga baru mencangkok keindahan romantis dari angkatan Belanda tahun 1880-an, Chairil Anwar mengubah corak khas itu menjadi wacana puisi internasional dari zamannya sendiri, melahap, mencerna, dan mencipta-ulang puisi kontemporer. Sajak-sajaknya menghembuskan.
Bunga rampai ini pertama kali terbit pada tahun 1948, menghimpun karya-karya terpilih para sastrawan Indonesia tanpa memandang kecenderungan ideologi politisnya. Pada pertengahan 1965, para pengarang yang diindikasikan terlibat dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan PKI masuk daftar hitam pemerintah Soeharto sehingga karya-karya pengarang Lekra pada cetakan kelima (1969) dicabut dari buku …
Pada 1933, timbul satu angkatan yang menyatakan diri sebagai Pujangga Baru. Nama itu bermula sebagai nama majalah yang terbit mulai tahun itu. Diterbitkannya Pujangga Baru ialah realisasi dari hasrat untuk menyatukan para pengarang dari berbagai suku, daerah, ataupun agama, semata-mata menitik-beratkan materi kesusastraan dan bahasa.
Karya prosa dan puisi dalam Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang ini mencerminkan apa yang ada di benak dan yang dialami bangsa Indonesia di bawah penindasan bala tentara Jepang. Secara tak langsung, para sastrawan, antara lain, seperti ingin mengingatkan khalayak betapa penjajahan telah menciptakan mentalitas budak pada diri bangsa kita