Buku ini mengisahkan pergulatan dan konflik batin sejumlah manusia yang tengah menerima ujian berat. Siapa saja yang tengah "bebas" pasti tidak berkeinginan "menginap" di Lapas Sukamiskin. Upaya keras untuk menemukan hikmah dan pelajaran dari apa yang menimpa mereka selama ini tertuang secara naratif dalam buku ini. Di sisi lain, bersikap realistis dalam menjalani hidup yang penuh keterbatasan…
Siapa yang mau seperti Nabi Yusuf yang memilih penjara fisikal agar ia tak terpenjara secara metaforik. Hidup di tengah kekangan hawa nafsu adalah penjara sebenarnya, itu lebih buruk, maka lebih baik dipenjara di antara jeruji dengan hati yang penuh kebebasan. Siapa yang mau "senekad" Nabi Yusuf. Semua orang juga akan menyatakan doa seperti Nabi Yusuf adalah kebodohan, penjara kok lebih disukai…