Dalam pandangan banyak orang, Sumargono identik dengan KISDI (Komitmen Indonesia untuk solidaritas dunia Islam) jabatannya sebagai ketua pelaksana harian harian KISDI, dijadikan sasaran fitnah beberapa orang yang tidak suka kepadanya.
Dalam pandangan banyak orang, Sumargono identik dengan KISDI (Komitmen Indonesia untuk solidaritas dunia Islam) jabatannya sebagai ketua pelaksana harian harian KISDI, dijadikan sasaran fitnah beberapa orang yang tidak suka kepadanya.
Risalah ini merupakan pengakuan sang mujahid tenang berbagi keteribatan dalam gerakan-gerakan yang membawanya kepada syahadah keangotaan dan kegiatannya di Ikwanul Muslimin yang ia sendiri adalah seorang tokohnya. Pertentangannya dengan penguasa Mesir.
Khadijah terpaku. Mulutnya tak mampu mengucapkan kata itu. Sebuah kata yang berawalan huruf ""mim"". Kata itu ternyata mengandung makna yang dalam. ... Khadijah tidak sendiri. Seluruh makhluk di jagad raya ini seolah telah menjadi seperti dirinya. Merindu, haus akan air segar ‘Mim’. Dan saat Khadijah berucap “mim”, ketika kedua bibirnya menutup rapat, seakan-akan udara yang ada dalam ro…
Siapa yang tak ingin mendapat sekuntum mawar merah sebagai ungkapan cinta dari suami? Ini jangankan bunga, ketika aku minta diantar ke pasar swalayan.....jawabannta,"Kamu kan punya kaki, jalanlah sendiri...Tugasku lagi banyak! Tak usah manja, ingat muslimah harus tegar, siap berjihad fi syoro wa dloro!"
Buku ini mengantarkan pesan kebebasan Mernissi. Buku ini menjadi catatan puitis dan menggembirakan tentang masa lalu yang mulai memudar, dilihat melalui mata seorang gadis kecil yang selalu ingin tahu, yang hidup dalam keluarga Muslim terpandang di Fez sebelum kemerdekaan Maroko. Mernissai selalu ingin menjadi seorang pencerita yang fasih, dan kini bernostalgia melalui masa kanak-kanaknya sejak…
Ini kisah tentang rumah, tempat yang mengizinkanmu gagal berkali-kali. Di sini kau boleh lelah, kau boleh mengeluh. Di sini pula kau boleh salah, kau boleh marah. Bila perjalananmu sudah terlalu jauh dan melelahkan, pulanglah. Ambil selimut, menangislah. Ambil segelas teh hangat, teguklah. Bila kau sudah cukup kuat, kau boleh berkelana lagi. Dan rumahmu akan selalu setia menunggumu kembali. …
Buku ini berkisah tentang perjalanan panjang penulisnya dari masa kecil hingga menemukan jalan tasawuf di Dunia Islam. Benih spiritual di dalam dirinya barangkali telah ditanam, secara tidak sengaja, saat dia berumur 8 tahun, ketika gurunya di SD Connels Point, bagian selatan Sydney, membacakan sajak sufi Abou nen Adhem. dan kisah kehidupan lainnya.
Sosok Imran adalah sosok seorang Muslim yang canggung karena dibesarkan di luar lingkungannya. Ia melakukan pencarian akan identitas dan kepercayaan, dan sering terjebak dalam kebingungan multikultural. Imran menulis memoar tentang masa kecilnya hingga dewasa dengan kejujuran yang kocak dan bijak tentang realitas budaya baru akibat era globalisasi.