One of Heidegger's most important works, this text gives a thorough explanation of what is arguably the most fundamental and abiding theme of his philosophy, namely the difference between truth as the "unhiddenness of beings" and truth as the "correctness of propositions". For Heidegger, it was by neglecting the former primordial concept of truth in favour of the latter derivative concept that …
Buku karya Schuon ini dibuka dengan pembicaraan tentang hubungan antaragama yang hidup di bumi ini, dan menyuguhkan dimensi baru subyek perbandingan agama dengan cara yang unik. Bagian Kedua, membahas tema-tema yang lebih khas Islam dengan menggali perbedaan antara Sunni-Syi'ah, khususnya persoalan-persoalan yang berhubungan dengan problem psikologis dan spiritual berkaitan dengan 'sahabat-saha…
Sophie, seorang pelajar sekolah menengah berusia empat belas tahun. Suatu hari sepulang sekolah, dia mendapat sebuah surat misterius yang hanya berisikan satu pertanyaan: “Siapa kamu?” Belum habis keheranannya, pada hari yang sama dia mendapat surat lain yang bertanya: “Dari manakah datangnya dunia?” Seakan tersentak dari rutinitas hidup sehari-hari, surat-surat itu mempuat Sophie…
Kemampuan berpikir adalah sebuah perjalanan--bukan tujuan--yang sebagai konsekuensinya akan menumbuhkan pemahaman tentang diri, kemampuan memecahkan masalah secara lebih efektif, sikap terbuka terhadap pemikiran baru, hingga empati yang lebih baik dalam berhubungan dengan manusia lain. Lewat Menjadi, Afutami menawarkan peta jalan yang membantu penelusuran tersebut. Alih-alih menggurui, buku …
"Kaidah Emas, “lakukan pada orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan”, adalah landasan moral yang mudah sekali diterima oleh semua orang di mana pun. Maka, moral, yakni soal benar/salah, sesungguhnya mudah dipahami secara intuitif. Tapi, mengapa moral menjadi isu paling krusial di tengah masyakarat kita? Lihat fakta: Indonesia konon salah satu negara paling religius tapi masuk peri…
Pada mulanya adalah kata dan selebihnya adalah problem. Dalam antrian, benar jika kaum filsuf mengatakan bahwa manusia dikuasai oleh kata-kata. Namun, pada saat yang sama, pengalaman manusia bersama kata-kata menyisakan problem. Problem itu, salah satunya sebagaimana ditunjukkan oleh Achmad San dalam buku ini, adalah tidak memadainya bentuk-bentuk majas yang kita kenal di bangku sekolah.