Barbara Victor, seorang jurnalis kawakan, membawa kita menyelisik latar belakang fenomena baru ini, yang didalamnya berkelindan berbagai aspek: politik, kultural, psikologis, sosiologis-segi-segi yang sering tenggelam dalam ingar bingar berita. Kita akan menyimak kisah-kisah getir dan konflik-konflik yang membuat "mawar-mawar" ini memilih untuk menggugurkan kelopak-kelopak mereka sendiri dalam …
"....rumah tangga kita ini ibarat rumah bambu. Mungkin ketika gempa dasyat menerpa, rumah-rumah lain akan hancur. Tetapi di rumah bambu, gempa itu hanya menyebabkan sedikit guncangan." Ucapan sang suami itulah yang menguatkan tekad Bunda Iffet untuk meletakkan kesembuhan Bimbim dan Kaka sebagai prioritas hidupnya. Meski ditengah dirudung duka dengan kejadian yang menimpa anak dan keponakannya…
Sedih, galau, tidak terima, bahkan protes. Perasaan inilah yang dirasakan Soraya Haque, saat mendegar ayahnya meninggal. "Tuhan, mengapa ini terjadi? ini tidak adil," protes Soraya. Momen ini menjadi puncak kegelisahan Soraya atas hidup dan kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan pun meluas bukan semata atas peristiwa kematian, tapi atas segala apa yang dirasakan, dilihat, dan dialaminya. Dan, setel…
"Siapa saja yang membaca buku ini tidak akan mengira bahwa sosok yang ibicarakan adalah seorang teknologi yang juga Rektor ITB. Tidak ada rumus-rumus teknis yang rumit seperti layaknya seorang teknolog ketika berbicara tentang profesinya. Pemahaman kuantitatif yang sering dipandang sebagai sesuatu yang kebih berharga dibandingkan dengan pemahaman kualitatif, seolah hendak diterobos oleh buku in…
Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi naik haji pada usia 11 tahun, pulang lalu pergi lagi dan tak pernah kembali ke Tanah Air. Di Tanah Suci ia menjadi guru bagi ribuan orang yang datang dari Nusantara. Ulama ini contoh yang paling hebat dalam sejarah ulama-ulama yang bermukim di Mekkah. Setiap pertanyaan ia jawab dengan menulis kitab, setiap kitab di cetak berulang-ulang. Jika hari ini kita men…
Waktu berlalu, manusia berubah. Dalam buku biografi ini, R.S. Hardjapamekas menuturkan pengalamannya melewati zaman kolonialisme Belanda, zaman fasisme Jepang, zaman kemerdekaan dan masa-masa sesudahnya. Sebuah lintasan pengalaman yang membentang di garis masa sekitar 40-an tahun. Dalam lintasan itu, Pak Hardja-panggilan akrabnya mengalami perubahan karier dari seorang pegawai pemerintahan menj…
Jaman robah, manusa ngigelan tepak kendang parobahanana. Dina ieu buku,R.S. Hardjapamekas medar pangalamanana nu nyorang jaman walanda, jaman pasimeu jepang, jaman kemerdekaan jeung jaman satutas kemerdekaan.pengalaman anu ngagurat,manjang ngaliwatan mangsa leuwih ti 40 tahun.tina pangalaman parobahan kalir timimiti jadi pagawe pamarentahan nepi ka jadi guru.keur anjeuna,etateh tarekah pikeun b…