Inti kepercayaan keagamaan bagi setiap agama yang berasaskan percaya kepada Allah Yang Maha Esa adalah iman kepada yang gaib. Sehingga ketika di Eropa modern berkembang aliran rasionalisme, sebagian roang menyerukan memeluk agama tanpa misteri. Jelas hal ini ditolak oleh para ahli agama. Karena agama tanpa hal-hal yang bersifat misteri, bukanlah agama. Tapi bagi kaum muslimin, iman kepada yang …
Judul asli buku ini adalah Allah, ditulis oleh seorang cendekiawan Muslim Mesir yang sangat terkenal karena pikiran-pikirannya yang jernih dan luas wawasannya. Kali ini ditelusuri keimanan manusia sejak zamannya yang paling purba sampai masa kini, zaman manusia mengagungkan akal secara berlebihan.
Buku ini berikhtiar untuk mengembalikan Islam ke peran sejatinya: ajaran Tuhan selalu dilibatkan dalam seluruh aktivitas manusia. Mula-mula membahas tuntas makna Islam, Iman, dan Ihsan sebagai satu kesatuan yang mengantar kita pada kesempurnaan beragama.
Pada akhirnya kita ini hanyalah kenangan yang melekat di hati anak-cucu dan handai-taulan yang kian mengabur ditelan masa. Pada akhirnya kita ini hanyalah nama yang terukir di batu nisan yang kian mengabur ditelan masa.
Buku kecil ini adalah terjemahan dari karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Berisikan tentang beberapa pelajaran penting untuk segenap umat Islam. Terlebih tentang akidah dan iman.
Pemahaman agama secara normatif memberi bobot muatan ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, baik dalam bidang Aqidah, Ibadah maupun Akhlak. Adapun pendekatan non normatif lebih menekankan pada perbincangan intelektual tentang bagaimana memahami sekaligus bagaimana menyampaikan agama tersebut dengan memanfaatkan temuan-temuan ilmu-ilmu sosial yang telah berkembang pesat.
Tauhid sebagai ilmu sebetulnya belum ada di zaman Rasulullah saw, walaupun seluruh ulama sependapat bahwa Tauhid adalah dasar yang paling pokok dalam ajaran Islam. Sebagai ilmu, Tauhid tumbuh lama sesudah Rasulullah wafat. Di zaman Rasulullah saw, beliau mendidikkan sikap bertauhid ini kepada seluruh pengikut-pengikut dan sahabat-sahabat beliau.
Akidah dan tauhid adalah pondasi bagunan agama. Anak-anak yang baru tumbuh adalah laksana sebidang tanah yang di atasnya siap didirikan bangunan. Maka menanamkan akidah dan tauhid sejak dini bagi anak-anal muslim adalah suatu keharusan. Agar pondasi bagunan agamanya kuat.
Anak merupakan anugerah yang tidak ternilai dari Allah. Meskipun demikian, ia adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Perlu menjadi catatan bagi para orang tua bahwa pola belajar anak berbeda-beda di setiap tingkatan usianya. Oleh karena itu, penulis mencoba merangkum beberapa keterangan dari hadis-hadis sahih yang kemudian disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.
Pada akhirnya kita ini hanyalah kenangan yang melekat di hati anak-cucu dan handai-taulan yang kian mengabur ditelan masa. Pada akhirnya kita ini hanyalah nama yang terukir di batu nisan yang kian mengabur ditelan masa.