Andaikata Al-Qur'an dapat disebut 'buku', maka ia merupakan satu-satunya buku yang sanggup mengubah dunia ini dalam skala yang sangat besar. Kesanggupannya ini tak mungkin dapat ditandingi oleh 'buku-buku' lain mana pun, minimal karena Al-Qur'an adalah 'buku' bukan sembarang buku. Buku yang kini berada di tangan pembaca ini termasuk dalam kategori buku Ulum Al-Qur'an di atas.
Buku ini adalah diktat-diktat mata kuliah 'Ulumul Qur'an yang disusun untuk para mahasiswa Fakultas Syari'ah dan Dirasah Islamiyah di Mekah Al Mukarramah, guna melengkapi materi kurikulum Fakultas dan memenuhi kebutuhan para mahasiswa yang antusias dalam menimba ilmu pengetahuan.
"Dan sungguh, telah kami mudahkan Alquran utuk pelajaran. Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (Q.S. 54: 17). Demikianlah bunyi salah satu pesan Alquran yang bisa kita baca. Suatu pesan yang berintikan tentang bagaimana belajar dan mengambil pelajaran. Tetapi dari sinilah problem pembacaan dan pembelajaran Alquran dimulai.
Buku kecil ini berjudul Methode Khusus Membaca Al-Qur'an dalam bentuk tulisan yang sangat sederhana sekali, dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan para pelajar Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Lanjutan Pertama yang berkeinginan untuk belajar membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang sesuai dengan pedoman ilmu tajwid/dengan sebaik-baiknya.
Betapa pentingnya ilmu tajwid dalam kaitannya dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an demi mengumandangkan dan mengagungkan asma dan kebesaran Allah yang tertuang dalam ayat-ayat Al-Qur'an sekaligus sebagai amal ibadah. Oleh karenanya buku ini diterbitkan bermaksud membantu para pembaca untuk memukan makna yang hakiki yang terkandung dalam Al-Qur'an.
Jika gagasan Kitab Suci tidak memiliki keluwesan yang terhormat, niscaya ia tidak akan mampu bertahan untuk menjadi salah satu "warisan" terbesar umat manusia. Sebagai warisan, tentu saja ia tua dimakan usia. Maka, tugas para pewaris adalah menanyakan ulang secara kritis kedudukan dan peran yang telah dan akan dimainkan di masa depan.
Al-Qur'an mula-mula ditulis pada pelepah tamar, pada tulang-tulang, pada kulit, dan di dinding rumah. Ketika itu bentuk huruf belum seperti yang kita kenal sekarang ini. Belum diberi titik dan belum diberi baris. Juga, cara menulisnya tulisan itu berbeda-beda dari penulis wahyu yang diangkat oleh Rasulullah.
Tafsir ini menyajikan beebrapa pendapat para mufassir dari Assalafushshalih, dan pendapat-pendapat para mufassir di zaman modern. Disajikan dengan gaya bahasa yang sederhana, mudah dipahami, tidak membosankan, sistematis dan tidak bertele-tele. Pendapat-pendapat yang dipilih adalah pendapat-pendapat terkuat yang berdasar pada Alquranul Kariim, sunnah Nabi dan Fiqhul Lughah.
Banyak metoda yang digunakan oleh ulama tafsir dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an. Keragaman tersebut menimbulkan pula keragaman corak penafsiran, namun para ahli dalam bidang ini sepakat menyatakan bahwa cara yang terbaik dan terjamin kebenarannya dalam memahami Al-Qur'an adalah kembali kepada Al-Qur'an itu sendiri.
Buku ini menyajikan tafsir dari surat yang amat populer dan dikenal sebagai "jantung Alquran" itu. Ada banyak manfaat yang bisa kita petik dari uraian dan penafsiran yang disuguhkan dalam buku ini. Pengarangnya membahas asepek-aspek lahiriah dan batiniah dari ayat-ayatnya, sehingga buku ini layak ditelaah oleh siapa saja.