Text
Rubiah: Jika aku Boleh Memilih
Tak kepalang besar kebencian yang Rubiah rasakan pada sang ayah-seorang lelaki tua dengan hidung mirip kepala botol limun. Lelaki pemarah itu kerjanya hanya sibuk menghabiskan waktu di kedai, sementara istrinya membanting tulang untuk menghidupi keluarga. Sebagai anak sulung, Rubiah tak luput dari beban pekerjaann-setiap hari membersihkan ubi hasil kebun untuk dijual ke pasar esok hari
Suatu ketika, lelaki berkumis melintnag itu benar-benar kehilangan kegarangannya. Dengan lembut ia mengusap kepala Rubiah, bilang jangan risau saat melepasnya sekolah. Laku lembut pertama dan terakhir yang diterima Rubiah. Ayah Rubiah yang tempramen itu pergi untuk selama-lamanya.
Kepergian sang ayah megantarkan Rubiah pada kenyataan bahwa hidup adalah sebuah piliha.
Tidak tersedia versi lain