Inilah buku pilihan puisi dari penyair kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, Joko Pinurbo atau dikenal sebagai Jokpin. Buku yang judulnya merupakan salah satu frasa dalam sajak ""Puasa"" (2007) ini memuat 121 puisi dari kurun 1989-2012. Pada halaman 152, Jokpin berpuisi : Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.
"...Engkaukah itu yang bercanda dengan camar dan laut biru sedang aku di sini dalam rindu..."
"Mata waktu, mata sunyi: memanggil, menelan. Ceruk cinta yang haus warna. Ceruk perempuan. Malam ini aku akan tidur di matamu. Daun-daun celana berguguran di senja tersayang. Di senja tersayang daun-daun celana berguguran. Tangan kecil hujan menjatuhkan embun ke celah bibirmu, meraba demam pada lehermu, dan dengan takzim membuka kancing bajumu. Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ad…
Membaca puisi Dian adalah membaca narasi utuh seorang perempuan. Diksi-diksi lirih meluruh pada ruang imaji saya sebagai pembaca. Lewat proses tersebut saya diajak memahami anatomi cinta dan kewanitaan yang tak habis-habis diupayakan oleh setiap laki-laki. Tidak hanya kesenangan estetis yang didapatkan pada akhirnya, tetapi juga kedalaman etis sesosok makhluk tiang peradaban; perempuan
Rendra dijuluki “Si Burung Merak” bukan hanya karena pesonanya di atas panggung saja. Tapi, memang begitulah ia. Sesosok pribadi yang penuh vitalitas dan gairah. Seorang pecinta, bak merak yang merentangkan ekor cantiknya untuk menarik perhatian sang kekasih. Untuk merekalah, para kekasih, ia tuangkan cintanya lewat puisi. Di dalam buku ini, terangkum puisi-puisi cinta Rendra dari tiga masa.
Siapakah yang lahir dari jari jemari puisi yang memetik waktu di taman kenangan Kau hanya tersenyum menatapku sambil membujuk huruf-huruf itu untuk terus i'tikaf lalu baik-baik menjelma udara, melintasi hari-hari yang surga
Sekali lagi kita menemukan asin laut, pasir, bunga karang, dan keindahan-keindahan lain yang membentuk kehidupan Timur Indonesia dalam puisi. Theo dan Weslly telah menjelaskan dengan sangat baik kepada kita bagaimana jatuh cinta dan mencintai bisa begitu ajaib dan berbahaya
"Membaca Panji adalah membaca puisi: misteri kata-kata dalam selaput makna; tipis lembut bagai pengalaman namun memasukinya menjebakkan perasaan"
Aku bisa kehabisan air mata, Tapi tak pernah bisa kehabisan cinta, Mengapa tega kau abadikan luka.